Utsman bin Mazh’un adalah sahabat Rasulullah ke-14 yang masuk islam, Ia juga seorang Muhajirin yang pertama wafat di Madinah, dan orang Islam pertama yang dimakamkan di Baqi’.

Kesederhanaan

Ustman bin Mazh’un dikenal sebagai sosok teladan kesederhanaan, hingga pada suatu hari, Ustman bin Mazh’un memasuki sebuah masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat ketika itu sedang duduk di dalamnya.

Melihat betapa kondisi Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu, hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersentuh.

Beberapa Sahabat bahkan meneteskan air matanya. Apa sebenarnya yang mereka lihat dari Ustman bin Mazh’un sehingga sampai meneteskan air mata?

Lihatlah, Ibnu Mazh’un itu ia mengenakan pakaian lusuh dan penuh sobekan yang ditambal dengan jahitan dari kulit unta.

Ia berjalan dengan wajah kezuhudan dan langkah tenang memasuki masjid. Pakaian yang penuh sobekan itu sama sekali tidak membuatnya malu terhadap Sahabat lain.

Ia juga tidak mengharap pujian dan perhatian dari manusia seorangpun. Sahabat Utsman mengenakan pakaian ketaqwaan yang tidak kasat mata oleh manusia, namun mendapat perhatian sepenuhnya dari Allah Subhaanahu wata’alaa. Ia hanya mengharap wajah Allah Subhaanahu wata’alaa dan ridha-Nya.

Ditegur Nabi Karena Ingin Membujang Seumur Hidup

Utsman bin Mazh’un pernah mengutarakan niatnya untuk tidak menikah. Hal itu diutarakan langsung kepada Nabi dan direkam dalam Musnad Ahmad dari Sa’d bin Abi Waqqash dan dalam Sunan Abu Dawud dari ‘Aisyah Ra.,

أن عثمان بن مظعون أراد التبتل، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: أترغب عن سنتي ؟ قال: لا والله، ولكن سنتك أريد. قال: فإني أنام وأصلّي، وأصوم وأفطر، وأنكح النساء، فاتق الله يا عثمان، فإن لأهلك عليك حقّا، وإنّ لضيفك عليك حقا، وإن لنفسك حقا، فصم وأفطر، وصلّ ونم.

‘Utsman bin Mazh’un pernah ingin untuk tidak menikah (membujang). Rasulullah Saw. lalu bersabda kepadanya, “apa kamu ingin menghindari sunahku? Utsman berkata: “tidak demi Allah, saya ingin mengikuti sunnahmu.” Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya saya tidur, shalat, puasa, makan, dan menikahi perempuan. Maka tetaplah bertakwa wahai ‘Utsman. Sesungguhnya engkau tetap memiliki kewajiban pada keluargamu, ada juga kewajiban pada sisi pribadimu, ada juga kewajiban pada jiwamu. Maka berpuasalah lalu berbuka, shalatlah namun tetap tidur.

Hijrah ke Habasyah (Habsyi)

Mengenal Lebih Dekat dengan Sahabat Utsman bin Mazh’un

Pada tahun kelima setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW menjadi nabi dan Rasul, kota Mekah saat itu berada dalam kondisi tidak stabil. Banyak penyiksaan dan penindasan yang dialami oleh para sahabat. Jiwa dan raga mereka tertekan oleh pembesar Quraisy yang bertindak semena-mena kepada mereka hanya karena iman kepada Nabi. Rasulullahpun memeerintahkan untuk hijrah

“Kalau pun kalian bersedia untuk keluar ke negari Habasyah, di sana ada seorang raja yang tak membiarkan seorang pun dianiaya di daerah kekuasaannya. Kalian tinggal lah di sana sampai Allah memberi jalan keluar,” ucap Nabi.

Dengan sembunyi-sembunyi, berangkat lah kafilah pertama menuju negeri Habasyah. Beranggotakan dua belas laki-laki dan empat perempuan. Beberapa ada yang naik tunggangan, beberapa yang lain berjalan kaki.

Utsman bin Mazh’un salah satu Sahabat yang pernah hijrah ke Habasyah (sekarang Afrika) karena didera berbagai siksaan oleh pemuka kafir Quraisy yang menyebabkan ia dan Sahabat-Sahabat seperjuangannya tidak bisa bergerak bebas di siang hari dan tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.

Demikianlah, Kaum Muhajirin tinggal di Habsyi dalam keadaan aman dan tenteram, termasuk di antaranya Utsman bin Mazh’un yang dalam perantauannya itu tidak dapat melupakan rencana-rencana jahat saudara sepupunya Umayah bin Khalaf dan bencana siksa yang ditimpakan atas dirinya.

Melihat penderitaan yang bertubi, berangsur-ansur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Sahabat hijrah ke Madinah Al-Munawarrah. Di sana mereka dapat beribadah dengan tenang.

Wafatnya

Saat Utsman bin Mazh’un wafat, rasulullah mendoakannya, seperti sabdanya:

“Semoga Allah memberimu rahmat, Wahai Abu Saib. Kamu tinggalkan dunia sebelum kamu menikmatinya dan sebelum dunia memperdayamu,” ujar Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melepas kepergiannya menuju kehidupan kekal nan abadi.

Ia mencium kening Ibnu Mazh’un hingga keningnya basah oleh air mata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang suci dan harum.

Referensi: