Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam atau lebih dikenal dengan Arqam bin Abi al-Arqam adalah salah satu sahabat nabi Muhammad SAW yang termasuk As-Sabiqun Al-Awwalun (Pemeluk Islam Pertama). Rumahnya berlokasi di pinggiran kota Mekah, yakni bukit Safa, yang merupakan basecamp untuk berdakwah nabi pada masa dakwah sirri, sembunyi-sembunyi. Rumah tersebut menjadi tempat berkumpulnya umat Muslim paling awal untuk mendengarkan Nabi Muhammad Saw menyampaikan ajarannya. Dari rumah itulah Islam berkembang hingga ajaran Rasulullah bisa sampai pada kita hingga kini.
Mengenal lebih dekat dengan Arqam bin Abi al-Arqam - Sahabat yang Rumahnya Menjadi Madrasah Pertama

Arqam atau al-Arqam adalah putra dari seorang ayah bernama Abdu Manaf bin Asad bin Abdullah yang dipanggil (kunyah) Abu al-Arqam dan seorang ibu bernama Umaimah binti al-Harits bin Hibalah. Ayahnya adalah orang yang cukup terpandang, masih dari kalangan Quraisy tepatnya dari Bani Makhzum, dan masih satu kabilah dengan Abu Jahal. Sedangkan Ibunya berasal dari kabilah Khuza’ah.

Arqam menikah dengan seorang wanita bernama Hindun binti Abdullah dari Bani Asad dan dikaruniai dua anak yaitu Umayyah dan Maryam. Anak-anaknya yang lain adalah Abdullah, Usman, dan Shafiyyah. Namun Ibnu Sa’ad dalam al-Thabaqat al-Kubra tidak mencatat nama istri yang merupakan ibu mereka. Hanya saja, menurut Ibnu Sa’ad, Arqam dikenal dengan panggilan Abu Abdillah sebagai kunyah baginya.

Dari berbagai literatur sejarah terdapat perbedaan pendapat mengenai pada urutan keberapa Arqam bin Abi al-Arqam masuk Islam. Dalam al-Thabaqat disebutkan bahwa Arqam masuk Islam pada urutan ketujuh, sedangkan Ibnu Hisyam dalam al-Sirah al-Nabawiyyah menulis Arqam masuk Islam di urutan kesembilan. Menurut Ibnu Hisyam, Arqam masuk Islam bersama dengan Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah, Abu Salamah, dan Utsman bin Mazh’un.

Peran dalam Peperangan

Menurut Ibnu Sa’ad tercatat bahwa Arqam tidak pernah melewatkan sekalipun berbagai peperangan yang diikuti Rasulullah Saw termasuk di antaranya perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Meskipun bukan sebagai komandan pasukan, tetapi Arqam tetap konsisten dalam membela Islam.

Al-Bukhari menceritakan dalam Tarikh al-Kabir bahwasanya setelah perang Badar Abu Usaid mendapatkan sebuah pedang yang dikenal dengan nama “al-Marzuban”. Pedang itu kemudian dikumpulkan beserta harta rampasan perang yang lain sebagai ghanimah. Setelah selesai pengumpulan, pedang tersebut kemudian oleh Rasulullah Saw diberikan kepada Arqam.

Sahabat yang Kurang populer

Ada yang menarik dari sosok sahabat yang satu ini. Ia sama sekali tidak terkenal. Kita tidak tahu kelebihannya apa jika dibandingkan seperti sahabat-sahabat lain seperti yang disebutkan di atas tadi. Padahal jika kita perhatikan dalam sirah, dengan digunakannya rumah beliau sebagai markaz utama dakwah dalam fase dakwah awal tersebut, dapat dipastikan ia merupakan salah satu anggota ring satu-nya nabi Muhammad SAW.

Bukan itu saja, nama bapak dari Al-Arqam pun sama sekali tidak dikenali dalam sejarah. Sehingga, para sejarawan terpaksa mengidentifikasi sahabat ini dengan menyebut nama bapaknya dengan sebutan  “Abil Arqam”; menjadi Arqam bin “Bapaknya Arqam”.

Ia merupakan salah satu orang penting dalam proses pergerakan, namun ia tidak memerlukan sebuah ketenaran. Perannya penting, namun tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah. Sungguh sebuah kerja besar yang ikhlas.

Wafat

Tidak banyak kitab yang menceritakan secara detail bagaimana kehidupan Arqam bin Abi al-Arqam di masa setelah Nabi Muhammad wafat. Namun ada pula yang menyatakan, Al-Arqam meninggal pada usia 83 tahun pada tahun ke-53 Hijriyah. Dia berwasiat agar disholatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas dan dimakamkan di Baqi‘.

Referensi: