Miqdad bin Amr adalah salah satu orang yang pertama kali masuk Islam. Ia adalah orang ketujuh yang menyatakan keislaman secara terang-terangan dan rela menanggung penderitaan dan siksaan, serta kekejaman kaum Quraisy. Ia adalah sosok yang memiliki kecerdasan luar biasa. Pada masa Jahiliyah, namanya adalah Miqdad bin Aswad karena ia diangkat sebagai anak oleh Aswad Abdu Yaghuts. Namun setelah turun aturan Islam yang mengharamkan nama seseorang ditempelkan dengan nama orang lain selain nama ayah kandung, maka Miqdad kembali merubah namanya menjadi Miqdad bin Amr, anak dari Amr bin Sa’ad. Keberanian dan perjuangannya di medan Perang Badar akan selalu diingat oleh kaum Muslimin sampai saat ini.
Kisah Sahabat Miqdad bin Amr - Mujahid Ulung dan Ahli Filsafat yang Menghindari Jabatan

Bukti bahwa beliau memiliki kecerdasan luar biasa, sangat terlihat dari setiap perkataannya. Setiap omongannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemikir yang keras. Salah satu kejadian yang menunjukkan betapa ia sangat filsuf adalah ketika ia melakukan orasi di hadapan kaum Muslim saat akan melakukan perang Badar.

Kata-katanya mengalir laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Hingga merasuk ke dalam hati orang-orang Mukmin. Dan wajah Rasulullah pun berseri-seri sementara mulutnya mengucapkan doa yang terbaik untuk Miqdad.

Miqdad berkata,

“Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah’, sedang kami akan mengatakan kepada anda, ‘Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu’. Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan.”

Dari ucapan yang dilontarkan Miqdad tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Itulah sifat Miqdad. Ia seorang filsuf dan pemikir. Hikmah dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus.

Pasukan Islam pun menjadi bersemangat mengikuti semangat Miqdad. Bahkan cara bicara Miqdad patut dicontoh oleh yang lain. Kata-kata Miqdad benar-benar berdampak positif kepada segenap pasukan Islam.

Menolak Jabatan

Salah satu hal yang paling tidak bisa dilupakan dari seorang Miqdad adalah ketika ia menolak sebuah jabatan. Kisahnya yang menolak jabatan dari Rasulullah itu sangat terkenal dan menyadarkan banyak orang tentang sebuah tanggung jawab.

Pernah suatu hari Miqdad bin Amr diangkat oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam sebagai pemenang kendali (amir) di suatu daerah. Tatkala ia kembali dari tugasnya, Nabi bertanya,

“Bagaimanakah pendapatmu setelah menjadi amir?”

Ia pun menjawab dengan jujur, 

“Engkau telah menjadikan diriku menganggap diri sendiri di atas semua manusia, sedangkan mereka semua di bawahku. Demi Dzat yang telah mengutusmu membawa kebenaran, sejak saat ini saya tidak berkeinginan menjadi pemimpin sekalipun untuk dua orang untik selama-lamanya.”

Sejak ia menjabat menjadi seorang amir, ia selalu dipenuhi dengan kemegahan, kemewahan, serta pujian dari banyak orang. Fitnah dunia yang selama ini ia dapatkan selama menjabat membuatnya semakin resah. Ia pun menjadi tidak tenang. Ia selalu teringat akan kalimat Rasulullah,

“Orang yang berbahagia ialah orang yang dijauhkan dari fitnah.”

Maka dari itu, untuk menghindari fitnah, ia pun melepaskan jabatan tersebut dan bersumpah tidak akan pernah menerima jabatan apapun lagi. Kecintaannya pada Islam membuatnya kuat meninggalkan segala hal yang membuatnya jauh dari iman. Ia berkata,

“Biarlah aku mati, asal Islam tetap jaya.”

Kecintaannya pada Islam membuat ia mendapatkan pujian dari Rasul,

“Sungguh, Allah telah menyuruhku untuk mencintaimu, dan menyampaikan pesan-Nya kepadaku bahwa Dia mencintaimu.”

Sumber: