Hanzhalah bin Abi Amir (Hanzalah bin ‘Amir) adalah sahabat Nabi Muhammad dari Bani Aus, kaum Anshar yang gugur dalam Pertempuran Uhud pada tahun 625. Ia memiliki seorang putra bernama Abdullah bin Hanzhalah dilahirkan setelah kematian ayahnya.

Kisah Hanzhalah bin Abu Amir - Syuhada Uhud yang Dimandikan Malaikat

Hanzhalah adalah putra dan Abu Amir bin Sify, pemuka kaum Aus. Abu Amir seorang bangsawan dan hartawan, disegani dan dihormati oleh kaumnya, apa yang ia katakan akan selalu di amini oleh kaumnya.

Dalam usia yang begitu muda, Hanzhalah begitu meyakini apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad dan dakwahnya. Dia rela menderita bersama sang Nabi, dengan cara meninggalakan segala kemewahan hidup yang mengitarinya. Bahkan sang ayahanda tercinta, Abu Amir, dan ibundanya ia tinggalakan setelah berbait kepada Nabi Muhammad. Bahkan kemudian ia dengan rela hati hendak membunuh sang ayah sendiri yang masih kafir.

Hanzhalah bin Abu Amir menikah dengan Jamilah puteri Abdullah bin Ubay sehari sebelum perang Uhud pecah, yakni pada malam Jum’at. Baru sehari ia menginjakkan kakiknya ditaman surga dunia, serta baru beberapa saat dia meraskan kenikmatan bergaul dengan istrinya yang cantik jelita, keesokan harinya ia harus berpisah dengan teman hidupnya yang baru menikah dengan dirinya. Sebab genderang perang telah berbunyi.

Hanzhalah pamit dan mengucapkan selamat tinggal kepada sang istri dengan hati hati dan wajah yang tetap tenang. Sang istri merasa bangga melihat sang suami menggunakan pakaian perang karena terlihat gagah dan menawan. Setelah selang beberapa menit, sepasang mata kekasih yang berhadapan itupun hilang bersamaan dengan berangkatnya sang suami dari halaman rumahnya.

Dimedan perang, Hanzhalah terlihat gagah dan berani. Sewaktu melihat Abu Sufyan, ia terus menerkam pundaknya sehingga Abu Sufyan tersungkur ke bumi. Pada saat itu Abu Sufyan berteriak: “Wahai saudaraku-saudaraku kaum Qurais, lihatlah aku ini Abu Sufyan bin Harb sedang dalam bahaya”.

Mendengar teriakan Abu Sufyan, maka kaum Qurais segera menyerbu dan memukul Hanzhalah secara bertubi-tubi. Tak sempat membalas karena telah dikeliling oleh kaum Qurais yang memukulinya, lembing musuh telah menembus badannya yang mengantarkan dia ke akhir hayat. Ia meninggalkan sang istri yang baru sehari bergaul bersamanya.

Beriringan dengan kejadian tersebut, Rasulullah kemudian bersabda kepada para sahabat-sahabatnya: “Aku melihat Malaikat sedang memandikan jasad Hanzhalah bin Abu Amir antara langit dan bui dengan air kasturi dalam bejana perak”.

Mendengar sabda Nabi Muhammad tersebut, para sahabat segera bergegas menuju ketempat mayat Handhalah, dan terlihat ada air menetes di kepala Hanzhalah. Segera mereka melaporkan kepada Nabi Muhammad apa yang telah mereka saksikan.

Waktu itu, Nabi Muhammad mengirim utusan kepada istrinya untuk menanyakan sesuatu. Kemudian istrinya menceritakan kepada utusan tersebut bahwa Hanzhalah kemedan perang dalam keadaan junub karena waktu itu terburu-buru dan tidak sempat mandi. Alangkah berbahagianya sahabat Nabi sekaligus pahlawan Hanzhalah, jasadnya telah dimandikan Malaikat.

Disarikan dari buku karya  A. Hasjmy, Pahlawan-Pahlawan yng Gugur di Zaman Nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.