As’ad bin Zurarah adalah Orang Yatsrib Pertama yang Memeluk Islam, beliau termasuk dalam ke-12 sahabat yang ikut dalam baiat Perjanjian Aqabah 1 (Pertama) dan kedua. Beliau masuk Islam saat bertemu Rasulullah di Ka’bah. 
Kisah As’ad bin Zurarah - Orang Yatsrib Pertama yang Memeluk Islam

Latar belakang Keluarga

Dalam kita Siyar A’lam al-Nubala dijelaskan bahwa As’ad bin Zurarah adalah putra pasangan Zurarah bin ‘Udas bin ‘Ubaid dan Su’ad al-Furai’ah binti Rafi’ bin Mu’awiyah. Ibunya adalah bibi dari Sa’ad bin Mu’adz, sahabat yang gugur di perang Khandaq. Ayah As’ad adalah tokoh yang disegani dari Bani al-Najjar, yang kemudian pengaruhnya turun kepada As’ad, atau bahkan lebih besar pengaruh As’ad dibanding ayahnya.

As’ad menikah dengan perempuan bernama ‘Umairah binti Sahal bin Tsa’labah. Istrinya sama-sama dari kalangan Bani al-Najjar. Dari pernikahan ini, As’ad memiliki tiga orang anak yaitu Habibah binti As’ad, Kabsyah, al-Furai’ah, semuanya masuk Islam bersama As’ad. Menurut keterangan al-Thabaqat al-Kubra, sama seperti Rasulullah Saw As’ad bin Zurarah tidak memiliki anak laki-laki yang hidup sampai dewasa.

Sosok Pemimpin Yang Disegani

Ibnu Sa’ad dalam kitabnya berjudul al-Thabaqat al-Kubra riwayat dari Affan bin Muslim dari Hammad bin Salamah dari ‘Ali bin Zaid dari ‘Ubadah bin al-Walid bin ‘Ubadah bin al-Shamit menceritakan bahwasanya As’ad bin Zurarah ketika malam perjanjian Aqabah kedua, memegang tangan Rasulullah Saw seraya berkata dengan suara lantang, “Wahai hadiri sekalian! Apakah kalian sadar atas bai’at kalian kepada Nabi Muhammad? Sungguh kalian berbai’at dengan penuh keyakinan untuk berjuang melawan orang-orang Arab, ‘Ajam, Jin, dan manusia.”

Para peserta bai’at sebanyak 74 orang itu pun menjawab, “Kami memerangi orang yang memerangi kami, dan berdamai dengan orang yang berdamai.”

As’ad bin Zurarah kemudian bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, berilah kami syarat.”
Rasulullah Saw pun bersabda, “Kalian berbaiat kepadaku untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, dan bersaksi bahwa aku adalah utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, taat dan patuh, tidak berselisih atas suatu urusan dengan orang yang ahli dalam urusan tersebut, dan berselisih tentang apa yang aku larang atas kalian dan keluarga kalian.”

Secara serentak mereka menjawab, “Baik.”

Salah seorang dari mereka kemudian bertanya, “Baik Rasulullah, syarat-syarat ini untukmu Wahai Rasulullah, lalu apa untuk kami?”

Rasulullah Saw menjawab, “Bagi kalian surga dan pertolongan (al-jannah wa al-nashr).”

Wafatnya

Masih dalam kitab al-Thabaqat al-Kubra diceritakan bahwa As’ad bin Zurarah wafat sekitar sembilan bulan pasca Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. As’ad menjadi orang Anshar pertama yang dishalatkan Rasulullah Saw di Masjid Nabawi dan dimakaman di Baqi’. Wallahu A’lam. As’ad ibn Zurara wafat sekitar yahun 623 Hijriyah.

Awal masuk Islam

Pada masa pra-Islam praktik haji telah dilakukan orang-orang dari seluruh jazirah Arab. Setiap tahun pada bulan Dzulhijjah mereka berbondong-bondong menuju Masjidil Haram untuk melakukan rangkaian haji termasuk thawaf mengelilingi kakbah. Namun, tidak seperti pada masa Islam, di sekeliling bahkan di dalam kakbah terpajang banyak sekali berhala-berhala.

Pada tahun ke-13 Kenabian atau setahun sebelum hijrah, As’ad bin Zurarah pergi dari Yatsrib menuju Mekah untuk melakukan haji seperti orang-orang Arab lainnya yang juga melaksanakan haji. Ketika tiba di Mekah, Ia menuju rumah kenalannya bernama ‘Utbah bin Rabi’ah untuk beristirahat.

Di rumah kenalannya itu terjadilah perbincangan, antra Utbah dan As’ad bin Zurarah. As’ad bin Zurarah curhat kepada ‘Utbah tentang berbagai problemnya di Yatsrib termasuk konflik berkepanjangan antar dua kabilah: Aus dan Khazraj. Namun curhatan itu direspon dingin oleh Utbah, Utbah bercerita pula bahwa dia dan orang orang di sekitarnya sedang mendapatkan masalah baru.

Seorang pria telah muncul di tengah-tengah mereka mengaku sebagai utusan Tuhan, menyebut mereka tidak memakai akal, melecehkan para tuhan berhala, masyarakat menjadi terpecah belah dan para pemuda menjadi rusak.

‘Utbah menjelaskan, “Dia putra Abdullah bin Abdul Muttalib dan kebetulan dari keluarga terpandang. Dia sekarang datang ke Masjidil Haram, jika engkau kesana, jangan dengarkan ucapannya dan jangan bertutur satu kata pun dengannya, karena ia penyihir handal.”

“Aku harus kesana karena aku sudah berihram dan akan melaksanakan thawaf di Ka’bab,” kata As’ad. ‘Utbah pun menimpali, “Kalau begitu, letakkan sedikit kapas di telingamu agar ucapannya tidak terdengar olehmu.”

Kemudian As’ad bin Zurarah pun pergi dan masuk ke Masjidil Haram dengan meyumpal kedua telinganya dengan kapas dan memulai thawaf. Ia melihat Muhammad Saw di samping ka’bah dikelilingi sekelompok orang yang sedang mendengarkan ucapannya dengan seksama. Ia melirik ke kerumunan itu dan cepat-cepat berlalu. Pada putaran yang kedua, As’ad bergumam, “Tidak ada orang yang lebih bodoh dari aku, bagaimanan mungkin sebuah cerita penting sedang diperbincangkan di Mekah, sementara aku tidak tahu apa-apa tentangnya.”
Lalu As’ad membuang kapas dari telinganya dan ikut duduk dalam kerumuman di sekitar Muhammad Saw untuk mendengar ucapannya. Ia tidak menemukan apa pun yang disebut sihir oleh Utbah. Apa yang didengarnya adalah cahaya petunjuk yang menerangi hatinya dan dapat diterima akalnya. As’ad pun mendekati Muhammad Saw dan bertanya, “Kemana engkau akan mengajak kami?” Nabi Muhammad Saw dengan tenang berkata, “Aku mengajak kalian kepada ajaran tauhid dan aku adalah utusan Allah Swt.” Nabi Muhammad Saw lalu membacakan QS al-An’am [06]: ayat 151 – 154.

As’ad bin Zurarah terpesona lantunan ayat-ayat al-Quran. Hatinya terguncang hebat. Kemudian Ia pun mengucapkan syahadat, “Lailaaha illallah Muhammadur Rasulullah.” Cerita ini dapat ditemukan dalam kitab al–Thabaqat al-Kubra karya Muhammad bin Sa’ad al-Baghdadi atau populer dengan nama Ibnu Sa’ad.