Amr bin al-Jamûh RA adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang gugur dan mati syahid di medan perang Uhud. Ia dikenal dengan sahabat yang gigih untuk membela Islam. Meski kakinya pincang namun ia tetap bersemangat untuk masuk di medan pertempuran demi mendapatkan ridha Allah SWT dan mendapatkan Surga-Nya.

Kisah Amr bin al-Jamûh RA - Sahabat Rasulullah Yang Pincang, Sahid di Perang Uhud

Masuk Islam

Amru bin al-Jamuh berasal dari Bani Salamah dan dikenal sebagai salah seorang pemimpin dalam kaumnya. Amr bin Jamuh adalah salah seorang pemimpin Yatsrib pada masa jahiliyah. Dia ipar Abdull bin Amr bin Haram, juga kepala suku Bani Salamah yang dihormati yang dihormati karena pemurah dan memiliki peri kemanusiaan yang tinggi serta gemar menolong orang-orang yang membutuhkan.

Pada awalnya ia tidak memeluk agama Islam, ia sangat mempercayai berhala-berhala yang disembahnya. Sejak kedatangan Mus’ab bin Umair banyak dari orang Madinah memeluk Islam tak terkecuali tiga orang anaknya, Mu’awadz, Muadz dan Khalid, serta sahabat sebaya mereka yang bernama Muadz bin Jabal. Ibu mereka pun yang bernama Hindun, turut serta memeluk Islam atas ajakan Mus’ab. Meski demikian, Amru tidak mengetahui tentang keimanan yang telah dianut oleh mereka. Ketiga anak-anaknya sangat menginginkan ayahnya untuk segera memeluk Islam, maka dibuat rencana untuk membuat Amr bin Jamuh memeluk Islam.

Anak-Anak dari Amr bin Jamuh akan memindahkan berhala yang disembahnya ketempat lain. Kejadian ini pemindahan berhala terjadi berulang-ulang, hingga membuat Amr bin Jamuh kesal dan bertanya kepada berhalanya

“Apabila kamu memang berkuasa maka belalah dirimu sendiri, akan Aku persenjatai dengan pedang?”

Keesokan harinya berhala itu masih berpindah tempat, sehingga membuat Amir bin al-Jamuh berpikir atas kejadian itu dan kemudian menyatakan memeluk agama Islam. 

Amir bin al-Jamuh dikenal sebagai seorang yang dermawan dan mau membantu setiap orang. Ia tidak ikut Pertempuran Badar, karena ia diberi kemudahan untuk tidak mengikuti perang sebagai seorang yang telah tua.

Perang Uhud

Dalam Pertempuran Uhud, ia meminta kepada Nabi Muhammad agar diizinkan ikut berperang. Dalam pertempuran ini, ia diizinkan berperang untuk keinginannya memperoleh mati syahid. Sebelumnya ia memang berdoa agar dalam pertempuran ini ia dapat memperoleh mati syahid dan tidak dikembalikan kepada keluarganya. 

Amr bin al Jamûh Radhiyallahu anhu termasuk diantara para shahabat yang memiliki alasan yang dibenarkan syari’at untuk tidak ikut perang, karena beliau Radhiyallahu anhu pincang. Namun kondisi ini tidak mengurangi semangatnya untuk tetap iut berperang. Usaha anak-anaknya untuk menghalanginya pun tidak dipedulikannya. Akhirnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta maaf kepada kerelaan anak-anak Amr bin al-Jamûh untuk membiarkannya ikut berjihad, kalau memang menginginkan mati syahîd. 

Amru Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana pendapatmu, jika aku meninggal hari ini, bisakah aku menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini?” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Kemudian Amr Radhiyallahu anhu mengatakan, “Demi Allâh yang telah mengutusmu dengan al-haq, insya Allâh, saya benar-benar akan menginjakkan kakiku ini di surga hari ini. ” Kemudian beliau Radhiyallahu anhu terjun ke medan tempur sampai akhirnya keinginan beliau Radhiyallahu anhu dapat dicapai.

Diakhir pertempuran, ia memperoleh mati syahid. Ia dimakamkan dalam satu kuburan dengan Abdullah bin Amr bin Haram, karena keduanya adalah sahabat dekat.

Sumberhttps://almanhaj.or.id/3899-kisah-kisah-heroik-dalam-perang-uhud.html