‘Alqamah adalah seorang sahabat yang sangat taat. Ia tak pernah lalaikan shalat. Fadhu ataupun sunnah. Amalan puasa dan sedekah tak pernah terlewat. Sejak masa muda ia dikenal saleh. Patuh, setia, dan taat beragama. al-Qamah selalu ada di shaf depan di antara sahabat lainnya setiap shalat berjamaah. Namun, di penghujung hayat ia susah mengucap syahadat.

induk ayam dan anaknya

Dia juga dikenal sangat santun terhadap ibunya. Ayahnya sudah meninggal, segala kepentingan ibunya tidak ia abaikan. Tak sampai hati ia membiarkan ibunya mengambil air.

Tibalah saatnya Al-Qamah beristri dan tinggal di rumah sendiri. Saat itulah kejanggalan terjadi. Disengaja atau tidak, ia kurang memberi pelayanan kepada ibunya. Tetapi, ibunya tidak melapor tentang kekurangannya, hanya diam saja. Orang sekitar tak tahu bahwa ibu Al-Qamah sakit hati. Kemudian, terbetik berita bahwa al-Qamah sakit. Hari bertambah hari, sakitnya bertambah berat.

Saat Al-Qamah terlihat seperti mau meninggal, para sahabat berjaga-jaga, mereka silih berganti untuk mentalqinkan, “Laa ilaaha illallaah …”. Namun semua usaha sahabat tersebut sepertinya sia-sia. Beberapa kali mereka coba mengulang, namun lidah al-Qamah tidak bergetar, tidak dapat mengikuti, lidahnya kelu dan kaku. Salah seorang sahabat melapor kepada Rasulullah tentang situasi ini. Segera Rasulullah datang. Rasulullah menyuruh seorang sahabat menjemput ibu al-Qamah.

Setibanya ibu Al-Qamah datang, Rasul bertanya, apa tingkah al-Qamah yang memberatkan dirinya ini? Jika ada dosa terhadap ibunya sendiri maka segera dimaafkan!

Ibunya menyebutkan bahwa anaknya itu orang baik dan taat kepada Allah. “Saya ini sedih ya Rasul, sesudah ia berumah tangga sangat kurang perhatiannya kepada saya, sebab itu saya tidak memaafkannya,” katanya. “Kalau begitu,” ujar Rasulullah, “Ayo para sahabat kumpulkan kayu bakar, supaya al-Qamah ini dibakar saja.”

Mendengar sikap tegas Rasul, menangislah ibu itu sambil meronta-ronta. “Wahai Rasulullah, maafkan saya ya Rasul, jangan anak saya dibakar, saya mohon jangan ya Rasul. Saya sudah memaafkan al-Qamah, saya sudah maafkan dia.”

Kata maaf dari lidah ibu itu amat spontan, saat itu juga lidah al-Qamah lentur. Selesai ia menuturkan kalimat tauhid, terberitalah ia telah meninggalkan dunia. Nyaris ia termasuk ke dalam golongan umat yang disabdakan Rasul, yang artinya: “Tidak seorang hamba pun yang dianugerahi rezeki oleh Allah SWT kemudian dia tidak menunaikan hak kepada kedua orang tuanya, kecuali Allah menghapuskan amal baiknya dan menyiksanya dengan siksa yang pedih.”

Dari petikan kisah di atas, dapat tarik beberapa pelajaran:

  • ‘Alqamah ialah gambaran seorang yang mementingkan istri tapi lalai memenuhi hak orang tua. 
  • ‘Alqamah seorang yang taat beribadah. Shalat, puasa, dan sedekah, tak luput ditunaikannya. Namun, sikap buruknya pada sang ibunda membuatnya terhalang dan berat mengucap syahadat saat sakaratul maut. 
  • Tidak ada manfaatnya amal shalat, puasa, sedekah dan amal baik seseorang jika ia durhaka dan suka melukai hati orang tua kecuali ia bertobat dan perbaiki sikap. 
  • Kecintaan seseorang terhadap istri jangan sampai mengabaikan hak orang tua sendiri, terutama ibu. 
  • Betapa besarnya kasih sayang seorang ibu. Walau hati sudah tergores luka, ia tetap terbuka memaafkan karena tidak tega melihat anaknya sengsara. Demikian yang tergambar dari sikap ibunda ‘Alqamah. Ia memilih maafkan ‘Alqamah daripada melihat tubuh anaknya hangus terbakar api. Siksaan akhirat lebih berat dan lebih kekal dibanding siksaan dunia. 
  • Siksaan api dunia tak seberapa dibanding siksa api neraka di akhirat. Demikian tutur pesan Rasulullah.