Diriwayatkan bahwa Asma binti Abu Bakar melahirkan Ibnu Zubair di Quba pada saat perjalanan hijrah ke Madinah. Dia merupakan muslim pertama yang lahir dalam masyarakat Islam dan hidup sampai umur 73 tahun. Menurut riwayat dari Bukhari, Rasulullah mendoakan bayi ini pada saat kelahirannya.

Ibnu Zubair adalah sosok ahli ibadah, sangat tekun shalat malam dan berpuasa, disamping meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 33 hadits. Beliau piawai menunggang kuda, tangkas di medan laga, menyukai kata-kata indah, serta suaranya yang lantang.

Nama lengkap beliau Abdullah bin Zubair bin Al -‘Awwam bin Khuwailid bin Asas bin Abdul ‘Uzza bin Qushay Al Asadi. Dia dipangggil dengan sebutan Abu Bakar, ada pula yang menyebutnya Abu Khubaib. Kelahirannya di negeri hijrah Madinah telah membuat gembira kaum muslimin, kala itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mentahniknya dengan sebiji kurma sebagaimana terdapat dalam HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Beliau dikenal sebagai sahabat Nabi yang menolak politik dinasti. Beliau sebenarnya tidak setuju pelimpahan kekuasaan dari Mu’awiyah kepada Yazid karena dianggap tidak Syar’i, namun banyak dari sahabat yang menyetujui keputusan Mu’awiyyah tersebut dan membaiat Yazid bin Mu’awiyyah radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Meski tidak setuju, namun Abdullah bin Zubair juga tidak memprovokasi masa untuk memberontak pada penguasa.
Di usianya yang ke-12, Abdullah bin Zubair telah mengenal perang. Ia ikut dalam rombongan perang Yarmuk pada Rajab tahun ke-15 H. Empat tahun berselang ketika menginjak umur 16 tahun, Abdullah bin Zubair ikut serta dalam ekspedisi militer di bawah komando ‘Amr bin al-‘Ash ke Mesir. Ia terlibat dalam pertempuran melawan pasukan Byzantium di Afrika dan pertempuran-pertempuran lain.
Kisah Sahabat Abdullah bin Zubair - Sahabat YangTegas Dalam Kebenaran

Ka’bah, Makkah Al Mukarromah

Menaklukan Afrika

Abdullah yang memang lahir dari pasangan mujahid dan mujahidah ini berkembang menjadi seorang pemuda perwira yang perkasa. Keperwiraannya di medan laga, ia buktikan ketika bersama mujahid-mujahid lainnya menggempur Afrika, membebaskan mereka dari kesesatan. Pada waktu mengikuti ekspedisi tersebut, usianya baru menginjak 17 tahun. Namun begitulah kehebatan sistem tarbiyah Islamiyah yang bisa mencetak pemuda belia menjadi tokoh pejuang dalam menegakkan Islam.

Dalam peperangan tersebut, jumlah personil diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Jumlah pasukan Muslimin hanya 20.000 orang, sedangkan tentara musuh berjumlah 120.000 orang. Keadaan ini cukup membuat kaum Muslimin kerepotan melawan gelombang musuh yang demikian banyak, walau hal itu tdak membuat mereka gentar. Sebab bagi mereka, perang adalah mencari kematian sedangkan ruhnya bisa membumbung menuju surga sebagaimana yang telah dijanjikan Tuhan mereka.

Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut, Abdullah bin Zubair berpikir mencari rahasia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawaban, bahwa inti kekuatan musuh tertumpu pada Raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Dengan penuh keberanian, Abdullah mencoba menembus pasukan musuh yang berlapis menuju ke arah panglima tersebut.

Upayanya tidak sia-sia, ketika jarak antara dirinya dan Raja Barbar telah dekat, ia menebaskan pedangnya menghabisi nyawa panglima kaum musyrik itu. Panji pasukan lawan pun direbut oleh teman-temannya dari tangan musuh. Dan ternyata, dugaan Abdullah tidak meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian mereka bertekuk lutut di hadapan para mujahid yang gagah berani.

Menjadi Khalifah

Pada saat pengangkatan Yazid di Damaskus sebagai raja kedua dinasti Umayyah, Abdullah bin Zubair bin Awwam dibai’at menjadi khalifah di Madinah bertepatan pada tahun ke-63 H/ 682 M sebagaimana tercatat dalam Encyclpaedia of islam. Saat beliau menjadi khalifah wilayah kekuasannya meliputi seluruh Hijaz, Makkah, Madinah dan sekitarnya.

Beliau memulai pemerintahannya dengan pembangunan Ka’bah dan memilih gubernur Madinah serta mengirim utusan-utusan ke Iraq. Abdullah bin Zubair tetap sebagai Amir al-Mukminin di Kota Mekah selama kurang lebih sepuluh tahun meski pemerintahan Dinasti Umayyah yang pusat pemerintahannya berada di Damaskus telah berganti dari Yazin bin Muawiyyah kepada Marwan bin Hakam lalu Abdul Malik bin Marwan.

Pada saat kepemimpinannya, muncul pula pemberontak yang dipimpin Al-Mukhtar dengan 2000 pendukungnya. Saat itu tak ada khalifah yang berkuasa secara menyeluruh, baik di Syam maupun Kufah. Akhirnya muncullah orang yang kuat, yaitu Marwan di Syam. Tahun 67 Ibnu Zubair berhasil mengalahkan Al-Mukhtar yang dipimpin Mush’ab bin Zubair yang saat itu sebagai gubernur Basrah tahun 71 H, Mush’ab bin Zubair terbunuh oleh pihak Syam.

Kekuasaan Abdul Malik bin Marwan sangat luas, ketika di Kufah ia memerintahkan Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi membawa 3000 pasukan Syam untuk menundukkan Ibnu Zubair. Disamping itu ia juga menulis surat kepada Ibnu Zubair yang isinya menjamin keamanannya bila ia tunduk pada kekuasaannya. Namun beliau menolak, terjadilah pertempuran dahsyat di Arafah yang dimenangkan Hajjaj bin Yusuf. Saat itu kedudukan pasukan Ibnu Zubair sudah lemah. Untuk kedua kalinya terjadi lagi pertumpahan darah di Makkah pada bulan Dzulhijah tahun 73 H dan gugurlah Ibnu Zubair.

Wafatnya

Tokoh yang tegas dalam kebenaran ini wafat pada usia 72 tahun, terbunuh oleh Hajjaj bin Yusuf. Dalam Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi dikisahkan beliau dikepung selama beberapa bulan, dilempari dengan manjaniq dan ada sebagian pengikutnya yang berkianat. Beliau dibunuh dengan cara disalib pada Selasa 17 Jumadil Ula di Mekah Pada tahun 692.

Sumber:

Incoming search : pembunuh abdullah bin zubair, abdul malik bin marwan meredam pemberontakan abdullah bin zubair di, abdullah bin zubair meminum darah nabi, meredam gerakan abdullah bin zubair, meredam gerakan abdullah bin zubair makkah, perlawanan abdullah bin zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan, zubair bin awwam, mush’ab bin zubair