Desain Kan Gampang, Tinggal Pakai Template. Canva Gratis Juga Ada.

Sebuah Realita yang Bikin Desainer Ketawa Tapi Nangis Dalam Hati dan ini masiha ada di tahun 2025.

Halo teman,

Di ryanpratama.com, saya sering cerita soal dunia desain dari sisi teknis, tren, sampai keresahan.


Nah kali ini, saya mau bahas satu kalimat yang hampir semua desainer pernah dengar & hampir semuanya pernah dimintai desain gratis:

“Desain kan gampang. Tinggal pakai template, Canva juga gratis.”

Buat yang belum pernah ngedesain, kalimat ini mungkin terdengar wajar.
Tapi buat yang hidup dari desain… ini bisa bikin jantung bergetar, mata berkaca-kaca, terus senyum palsu sambil bilang:

“Iya, gampang kok 🙂.”

Padahal di dalam hati:


“Kalau gampang, kenapa minta saya?” 😭

Di postingan ini, saya mau bedah kenapa mindset “tinggal pakai template” sebenarnya menyesatkan—dan kenapa desain itu bukan sekadar drag & drop.

Canva Memang Hebat, Tapi Bukan Pengganti Otak Desainer

Saya akui: Canva itu salah satu tools terbaik untuk orang non-desainer bahkan untuk desainer sendiri karena saya sudah mulai memakainya sejak tahun 2024 karena efisien tetapi untuk beberapa asset saya tetap pakai illustrator dan aplikasi vector sejenisnya.

Emang Kelebihannya apa:

  • template ribuan
  • tinggal edit teks
  • tinggal ganti foto
  • output rapi
  • cocok buat konten cepat saji

Tapi di sinilah letak salah kaprahnya:

Tools memudahkan kerja, bukan menggantikan skill.

Canva itu ibarat palu digital.
Palu murah, palu mahal, bentuknya beda-beda.
Tapi kalau orangnya nggak ngerti cara bangun rumah, hasilnya tetap ambruk.

Desain bukan tentang alatnya, tapi cara otaknya bekerja.

Template Itu Jalan Pintas, Bukan Solusi

Template itu ibarat:

  • makanan instan
  • foto stok
  • baju yang sama dipakai ribuan orang

Cepat, simpel, tapi tidak bisa dijadikan identitas.

Masalahnya:

✔ Brand butuh identitas

✔ Bisnis butuh diferensiasi (Pembeda)

✔ Komunikasi butuh strategi

✔ Visual butuh arah yang jelas

Template yang ada itu cuma kasih bentuk,
bukan strategi visual.

Makanya selalu ada gap besar antara desain “bikin sendiri pakai template” dan desain “dibuat desainer”.

Desainer Nggak Jual “Bentuk”, Tapi “Keputusan”

Ini poin yang banyak orang nggak sadar:

Desainer itu bukan tukang gambar.
Desainer itu tukang ambil keputusan.

Keputusan tentang:

  • warna apa yang tepat untuk audiens tertentu
  • hierarki visual supaya pesan mudah ditangkap
  • ukuran font biar nggak pusing dibaca
  • komposisi supaya mata nyaman
  • pilihan foto supaya brand terlihat proper
  • style supaya selaras dengan identitas bisnis
  • tone visual supaya cocok dengan target pasar

Template nggak ngambil keputusan itu.
Desainer yang mikir.

Itulah yang sebenarnya dibayar.


“Kalau Desain Tinggal Pakai Template, Kenapa Banyak Brand Tetap Jelek?”

Nah, ini realita lucu tapi tragis.

Kalau benar-benar:

  • tinggal pakai template
  • dan semua jadi indah
  • dan semua brand jadi keren

Maka seluruh UMKM, corporate, sampai instansi pemerintah bakal tampil setara startup unicorn.

Nyatanya?
Slide, poster, feed Instagram…
banyak yang tetap kacau walau pakai template.

Kenapa?

  • salah pilihan template
  • warna tabrakan
  • font nggak sesuai brand
  • komposisi kacau
  • foto kualitas rendah
  • elemen ditempel tanpa alasan
  • nggak paham hierarchy
  • nggak ngerti psikologi visual
  • biar clean tapi jadinya kosong
  • biar estetik tapi tidak informatif

Karena template bukan jaminan tanpa desainer yang paham desain.

Desain Itu Kombinasi: Skill, Taste, dan Intuisi

Tiga hal yang template nggak punya:

SKILL

Cara pikir yang dibangun bertahun-tahun.
Desainer tahu kenapa sesuatu harus begini, bukan sekadar “cocok” atau “keren”.

TASTE

Rasa visual yang terasah karena sering lihat, analisa, dan terpapar banyak referensi.

INTUISI

Feeling yang muncul ketika layout “belum enak”, walaupun orang biasa nggak bisa jelasin kenapa.

Itu semua nggak datang dari Canva.
Itu datang dari jam terbang desainer.

Canva Bikin Semua Orang Bisa Mendesain.

Tapi Tidak Semua Orang Bisa Jadi Desainer.

Ini garis batasnya.

Canva:

  • mempermudah
  • mempercepat
  • merapikan

Tapi bukan mem-profesionalkan.

Semua orang bisa masak telur.
Apakah semua orang bisa jadi chef?
Tentu tidak.

Semua orang bisa ambil foto.
Apakah semua orang fotografer?
Tidak.

Semua orang bisa edit template.
Apakah semua orang desainer?
Jelas tidak.

Kenapa Desainer Masih Dibutuhkan?

Karena bisnis nggak butuh:

  • konten yang “sekadar jadi”
  • visual yang “sekadar bagus”
  • desain yang “sekadar rapi”

Bisnis butuh:

  • visual yang berfungsi
  • pesan yang terkomunikasikan dengan jelas
  • identitas yang stabil
  • desain yang punya arah

Dan itu semua hanya datang dari orang yang punya:

  • training
  • pengalaman
  • skill
  • taste
  • analisa
  • jam terbang

Yang nggak bisa diduplikasi oleh template mana pun.


Kesimpulan:

Desain Bukan Perkara Gampang—Tapi Tools Memang Membuatnya Terlihat Gampang

Tools modern seperti Canva, Figma, bahkan AI, membuat desain terlihat mudah.


Padahal yang mudah adalah eksekusinya, bukan proses berpikirnya.

Dan justru karena tools makin canggih:

  • peran desainer berubah
  • bukan lagi tukang bikin poster
  • tapi problem solver visual
  • komunikator brand
  • arsitek pengalaman
  • dan decision maker visual

Template boleh sama.
Tapi keputusan kreatif setiap desainer tidak akan pernah sama.

Sumber

Gambar Utama: https://unsplash.com/illustrations/the-image-says-deal-in-colorful-letters-TQ5Z9fJJgZ8

Previous Article

Introduction to Agents

Write a Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *