Ubay bin Ka’ab al-Anshari salah seorang sahabat Anshar yang berasal dari Bani Khazraj dan merupakan salah seorang dari Yathrib (Madinah) yang disebut qari’nya (pembaca Alqurannya) Rasulullah. Ubay termasuk salah seorang yang pertama-tama memeluk Islam. Ia bersyahadat saat Baiat Aqobah kedua. 

Ubay bin Ka’ab bin Qays al-Khazraji al-Anshari memiliki dua kun-yah. Rasulullah memberinya kun-yah Abu al-Mundzir. Sedangkan Umar bin al-Khattab menyebutnya Abu aht-Thufail. Karena ia memiliki seorang putra yang bernama ath-Thufail.
Biorafi Ubay Bin Ka'ab - Sahabat Rasulullah yang Fasih Bacaan Al-Qur'annya

Penyusun Alquran di zaman Rasulullah 

Ubay adalah orang yang mencatat dan menyusun Alquran di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Qatadah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘Siapa yang mengumpulkan Alquran di masa Nabi?’ Anas menjawab, ‘Ada empat orang. Semuanya dari kalangan Anshar. Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid -radhiallahu ‘anhum jami’an’.” (HR. al-Bukhari, 5003).

أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيٌّ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ

“Umatku yang paling penyayang terhadap yang lain adalah Abu Bakar. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah Utsman. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan Alqurannya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. at-Turmudzi 3791).
Banyak tokoh-tokoh sahabat yang belajar Alquran dari Ubay. Di antara mereka: Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Saib, Abdullah bin Ayyasy bin Abi Rabi’ah, Abu Abdurrahman as-Sulami -radhiallahu ‘anhu jami’an-.

Kisah Ubay bersama Rasulullah

Ubay ra biasa mengkhatamkan Alquran setiap delapan malam dalam tahajudnya. Pernah Rasulullah SAW bersabda kepada Ubay ra, “Allah telah menyuruhmu membacakan Alquran kepadaku.” Ubay ra bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Allah menyebut namaku?” Jawab beliau, “Ya, Allah menyebut namamu.” Mendengar itu ia menangis, karena sangat gembira bahwa dirinya telah diberi penghargaan oleh Allah SWT.
Ubay ra menceritakan bahwa pernah Rasulullah SAW mengujinya dengan bersabda, “Manakah ayat Alquran yang terbesar (dari segi berkah dan keutamaannya)?” Ubay ra berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi SAW mengulangi pertanyaan itu, karena menjaga adab Ubay ra kembali memberikan jawaban yang sama. Kemudian Nabi SAW bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya. Lalu Ubay ra jawab, “Ayat Kursy.” Nabi SAW gembira mendengar jawabannya dan bersabda, “Semoga Allah memberakahi ilmumu.”

Ketika Nabi SAW shalat dan dalam bacaannya tertinggal satu ayat, pada saat itu juga (dalam keadaan shalat), beliau diingatkan oleh Ubay ra. Selesai shalat, Nabi SAW bertanya, “Siapakah yang memberitahuku tadi?” “Aku yang memberitahu, ya Rasulullah,” kata Ubay ra. Beliau bersabda, “Dalam hatiku, aku menduga engkaulah yang memberitahu.” (Musnad Ahmad).

Pandai membaca dan menulis

Dikisahkan dari buku “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah. bahwa Ubay ra adalah sahabat yang  pandai membaca dan menulis sebelum masuk Islam. Padahal umumnya, bangsa Arab ketika itu tidak demikian. 

Sebelum memeluk Islam, dia adalah seorang pendeta Yahudi untuk Kota Yatsrib yang mahir membaca dan memiliki pengetahuan yang luas tentang agama Yahudi. Setelah masuk Islam, namanya semakin dikenal banyak orang.

Dengan kemampuannya membaca dan menulis, beliau bertugas mencatat wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi SAW. Hal itu menjadikannya memiliki  kemuliaan yang disandang sahabat Anshar ini. Ubay adalah orang pertama di Madinah yang menuliskan wahyu untuk Rasulullah. Kalau tidak ada Ubay, baru Rasulullah memanggil Zaid bin Tsabit. Di zaman Umar, ia diangkat menjadi hakim di Yaman.

Walaupun Ubay ra sibuk dengan ilmu dan berkhidmat kepada Alquran, ia selalu ikut berjuang di jalan Allah bersama Nabi SAW. Tidak ada satu pun peperangan yang diikuti oleh Nabi SAW dengan tidak disertainya. Ia turut mengambil bagian dalam pertempuran Badr dan peperangan lain sesudahnya.

Dikisahkan oleh Jundub bin Abdullah ra, Ubay adalah seorang yang zuhud. Saat Jundub ke Madinah ia mendapati sahabat Ubay yang sedang mengajar. Ubay Bin Ka’ab  terlihat eperti seorang musafir. Ubay Bin Ka’ab hanya memakai dua helai kain di tubuhnya dan duduk sambil mengajarkan hadis-hadis. Kemudian ia pun duduk di majelisnya Ubay ra. Setelah mengajar, Ubay ra pulang ke rumahnya dan ia mengikutinya dari belakang. Di sana, Jundub ra menjumpai sebuah rumah tua yang sangat sederhana dan sedikit perabotnya. Ubay ra menjalani hidup dengan sangat zuhud.”.

Ubay meninggal dunia pada tahun 29 H atau 639 M, yaitu pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Sumber:

Incoming search: ubay bin ka’ab meninggal pada masa, penyakit yang diderita ubay bin ka’ab, pengalaman sufi ubay bin ka’ab, hadits ubay bin ka’ab tentang shalawat, zaid bin tsabit, siapakah ubay bin salul, abdullah bin ubay