Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. adalah pengajar dan akademisi Indonesia. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sejak 5 Februari 2020. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2016-2020. Ia menjabat sebagai guru besar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.

Kehidupan awal

Yudian Wahyudi

Yudian lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 17 April 1960; umur 59 tahun). Ia dikirim ke Ponpes Termas sejak usia 12 tahun, di sana dia merasa sepertinya anak yang ‘dibuang’. Sebelumnya, dia belajar mengaji di Balikpapan, Kalimantan Timur, tetapi belum bisa berbahasa Arab. Ia mulai bisa bahasa Arab sejak berada di Termas.

Bapaknya adalah tentara zaman revolusi yang ditugaskan pemerintah di Balikpapan, Kalimantan Timur, tahun 1948, dan dia lahir di sana. Tetapi, karena Yudian nakal, suka tawuran, dia ‘dibuang’ ke pesantren. Alasannya adalah sebetulnya bapaknya ingin mondok ke Termas, tetapi orang tuanya tidak mampu. Jadi, nggak jadi, akhirnya dialah yang dimasukkan ke sana.



Pendidikan

Ia adalah lulusan Pondok Pesantren Tremas, Pacitan 1978 dan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta pada 1979. Selain itu, ia meraih gelar Bachelor of Art (BA) dan doktorandus di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 1982 dan 1987, serta BA dari Fakultas Filsafat UGM pada 1986.

Tahun 1988, Menteri Agama Munawir Sjadzali membuat program Pembibitan Calon Dosen IAIN se-Indonesia. Orang yang dipilih syaratnya, IP memenuhi syarat sebagai dosen, bisa bahasa Arab dan Inggris. Yudian tidak bisa berbahasa Inggris waktu itu. Akan tetapi, dia mempunyai 10 terjemahan bahasa Arab ke Indonesia dan mempunyai ijazah BA dari Fakultas Filsafat UGM. Dia lulus dan masuk 20 besar. Kemudian, mengikuti training sembilan bulan dan enam bulan bahasa Inggris. Setelah mengikuti training baru berangkat ke Kanada, 1991. Tahun 1993, dia menyelesaikan MA. Selesai MA, dia kursus bahasa Inggris lagi untuk mempersiapkan diri meraih gelar doktor. Sebab, untuk meraih beasiswa program doktor, sangat berat. Selain bahasa Inggris, dia juga kursus bahasa Prancis. Perhitungan dia benar. Tahun 1994, dia mengikuti tes dan berhasil memenangkan beasiswa untuk doktor.

Mengutip wawancara Harian Republika edisi 6 April 2009, Yudian memecahkan rekor sebagai dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat (AS) pada 2002-2004. Rekor itu diraihnya setelah menyelesaikan pendidikan doktor (PhD) di McGill University, Kanada. Ia juga berhasil menjadi profesor dan tergabung dalam American Asosiation of University Professors periode 2005-2006, serta dipercaya mengajar di Comparative Department, Tufts University, AS.

Pengabdian:

  • 2016, Penyandang Dana Beasiswa Yudian W. Asmin (Yudian W. Asmin Fellowship) untuk 45 anak SMP selama tiga tahun .
  • 2016, Pendiri Yayasan Nawesea .
  • 2016, Pendiri Sunan Averroes Islamic Boarding School (TK, SD dan SMP).
  • 2016, Editorial Board of International Journal of Pesantren Studies, Jakarta.
  • 2015, Menjadi Khatib Idul Adha 1436 H, di Masjid Al Falah, Jl. Tempel, Caturtunggal, Depok.
  • 2015, Editorial Board of International Journal of Pesantren Studies, Jakarta.
  • 2015, Pendiri Tarekat Sunan Anbia, Yogyakarta.
  • 2015, “Pengajian dalam rangka Peringatan Tahun Baru Hijriah 1437 H.”, Pendopo Dipokusumo, Kabupaten Purbalingga.
  • 2015, Imam-Khatib Idul Adha, Ambarukmo Plaza, Yogyakarta.
  • 2015, Imam-Khatib Idul Fitri, GOR, UNY.
  • 2015, Nuzulul Quran, Masjid Agung Dr. Wahidin Soediro Hoesodo Kabupaten Sleman ..

Karier

Sepanjang karirnya, Yudian telah menulis segudang artikel ilmiah yang bertemakan Islam kontemporer. Beberapa di antaranya adalah Aliran dan Teori Filsafat Islam (1995), Hassan Hanafion Salafism and Secularism (2006), dan Berfilsafat Hukum Islam dari Harvard ke Sunan Kalijaga (2014). Yudian juga termasuk produktif sebagai penulis dan penerjemah. Ia telah menerjemahkan 40 buku bahasa Arab, 13 bahasa Inggris, dan dua buku berbahasa Prancis ke bahasa Indonesia. Pada 2016, ia turut mendirikan TK, SD dan SMP Sunan Averroes Islamic Boarding School.[3]

Kontroversi

Semasa menjabat rektor, Yudian sempat membuat kebijakan melarang penggunaan cadar bagi mahasiswi di UIN Sunan Kalijaga.

Ia mengeluarkan surat keputusan B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 perihal pembinaan mahasiswi bercadar tertanggal 20 Februari 2018. Kebijakan Yudian menuai protes dari berbagai pihak, meski ada juga yang mendukung.

Ia beralasan pelarangan itu demi menjaga ideologi mahasiswa dan mahasiswi UIN Kalijaga serta memudahkan kampus dalam kegiatan belajar mengajar.

Misalnya, Yudian curiga mahasiswi yang bercadar akan dengan mudah menggunakan joki saat ujian tanpa bisa diketahui.

“Jadi harus bijak melihat ini. Anak-anak baru itu datang dari kampung, lulus dari sekolah malah ‘digarap’ sama orang luar kampus, doktrin ideologi tertentu. Kita harus selamatkan agar tidak tersesat,” kata Yudian saat dihubungi CNNIndonesia.com, 6 Maret 2018.

Namun, belum sebulan surat tersebut berlaku, ia mencabut kebijakan larangan cadar ini. Ia mengeluarkan surat bernomor B-1679/Un.02/R/AK.00.3/03/2018.

Surat yang dikategorikan bersifat penting itu terkait pencabutan surat tentang pembinaan mahasiswi bercadar tertanggal 10 Maret 2018. Dalam surat itu tertulis, berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Universitas (RKU) pada Sabtu, 10 Maret 2018, diputuskan bahwa Surat Rektor Nomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 tentang Pembinaan Mahasiswi Bercadar dicabut.

Dijelaskan alasan pencabutan aturan pembinaan mahasiswi bercadar itu demi menjaga iklim akademik yang kondusif.

Selain itu ia pula pernah meloloskan disertasi Doktor Abdul Aziz dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta berjudul “Konsep Milk Al Yamin: Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital“. Disertasi tersebut memberikan pembenaran pada perbuatan z!na dan hubungan intim tanpa nikah sebagai sesuatu yang halal dan sah secara syariat atau hukum Islam.

Di awal-awal masa jabatannya sebagai ketua BPIP, Yudian juga beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang kontrovesial di antaranya adalah:

  • Yudian Wahyudi menyebut agama jadi musuh terbesar pancasila. 
  • Yudian menghimbau agar ‘Assalamualaikum’ diganti dengan ‘Salam Pancasila
  • Yudian mengatakan “Sekarang kita yang beragama ini, dalam bernegara harus beralih dari kitab suci menuju konstitusi. Jadi kalau kita tidak bisa mengelola agama maka dia akan menjadi musuh terbesar kita.” Menurut Yudian, lima sila yang ada di Pancasila dapat ditemui di semua kitab suci agama yang diakui di Indonesia. Orang-orang yang beragama dalam bernegara harus beralih dari kitab suci menuju konstitusi.

Sumber: