Pak Tino Sidin sudah menghiasi layar TVRI seluruh Indonesia sejak 1978 hingga 1989, lewat acara yang “wajib” ditonton anak usia SD: Gemar Menggambar. Acara itu dulunya diasuh oleh Dukut Hendronoto alias Pak Ooq. Sebelumnya, sejak 1969, Pak Tino Sidin hanya beredar di TVRI Yogyakarta. Setelah TVRI tak sendirian dan muncul Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), Tino Sidin mengasuh acara Mari Menggambar di TPI.

Tino Sidin lahir di Tebingtinggi, Sumatra Utara, pada 25 November 1925 dari pasangan Pak Sidin dan Ibu Tini, Tino tumbuh di bawah asuhan kakeknya Suro Sentono. Tino sejak kecil sangat suka menggambar dan belajar secara otodidak. Karya Tino mulai tampak kiprahnya sejak pendudukan Jepang. Bakat alamiah Tino Sidin ditemukan tanpa sengaja oleh tentara Jepang ketika menggambar di pasir. Ia kemudian diangkat sebagai pembuat poster propaganda Jepang dengan jabatan Kepala Bagian Poster Jawatan Penerangan di Tebing Tinggi pada 1944.

Beliau tak melupakan apa yang ia alami waktu kecil bersama kakeknya yang seorang sais andong. Ketika Tino menggambar di atas selembar kertas, sang kakek memarahinya. “Kalau kamu main kertas-kertasan itu, nanti bagaimana cari makan?” kata kakeknya. Tapi rupanya, hingga Tino tutup usia, dengan menggambar (juga melukis) dan menjadi guru gambar, sang cucu tidak hanya bisa bertahan hidup, tapi juga dikenal banyak orang.

Sejak kecil Tino dikenal aktif di Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), dan pada zaman pendudukan Jepang, Tino dipercaya menjadi guru bantu di kampung kelahirannya untuk bidang menggambar.

Pasca kemerdekaan, Tino Sidin bersama Daoed Joesoef dan Nasjah Djamin mendirikan Kelompok Angkatan Seni Rupa Indonesia di Medan. Di sini Tino juga aktif di kepanduan dan kepalangmerahan.

Tahun 1946, Tino Sidin pindah ke Yogyakarta. Melukis atau membuat sketsa, membuat propaganda anti Belanda, sekolah, bergerilya dan aktif di kepanduan adalah kesehariannya.

Pada Februari 1949, Tino ke Jakarta dengan bergabung Batalyon X Divisi Siliwangi. Tahun 1951, Tino Sidin kembali ke Tebing Tinggi untuk mempersunting Nurhayati dan menjadi guru olahraga di Taman Dewasa (SMP) Tamansiswa, setahun kemudian mereka pindah ke Binjai. Di kota inilah karir melukis Tino Sidin mulai dikenal dengan nama Tino’S.

Tahun 1961, Tino Sidin kembali ke Yogyakarta setelah mendapat tawaran bea siswa di Akademi Seni Rupa Indonesia. Setahun kemudian, istri dan anak-anak beliau boyong ke Yogyakarta. Sebagai guru ia pernah tergabung dalam sanggar menggambar Kelompok Seni Sono dengan pengasuh Pak Tino Sidin pada tahun 1968.

Tahun 1969, TVRI Yogyakarta mengundang Pak Tino untuk mengisi acara ‘Gemar Menggambar’. Lambat laun metode dan cara menggambar Pak Tino mulai menjadi ‘virus positif di kalangan anak-anak. Acara ini berlangsung hingga tahun 1978. Gemar Menggambar kemudian berpindah ke stasiun TVRI Pusat mulai 1979 hingga 1989.

Tino Sidin memulai pendidikan menggambar anak-anak di Art Galery Seni Sono, Yogyakarta pada 1970-an. Tino juga diberi peran untuk menjadi penatar para guru gambar di semua provinsi Indonesia—yang waktu itu 27 jumlahnya—oleh Departemen Pendidikan dan Kubudayaan. Ketika Tino muncul di TVRI Jakarta. 

Selain mengisi acara di TVRI, Tino Sidin juga menulis beberapa buku tentang menggambar dan cerita bergambar, di antaranya adalah Bawang Merah Bawah Putih, Ibu Pertiwi (terbitan Balai Pustaka), Mari Menggambar (10 jilid),Membalas Jasa dan Menggambar Dekoratif.

Sosok yang juga merupakan seorang guru seni rupa dan bertahun-tahun memajukan dunia seni anak lewat menggambar, karena sakit akhirnya Pak Tino wafat pada 29 Desember 1995 di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta. Pak Tino Sidin dimakamkan di makam Kwaron, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul tidak jauh dari Taman Tino Sidin, Yogyakarta.