Abbas bin Ubadah bin Nadhlah merupakan sahabat Anshar yang mula-mula memeluk Islam (As Sabiqunal Awwalun) Pada baiat Aqobah I. Dia seorang deklarator berdirinya negara Islam Di Madinah, yang melindungi Nabi Dan meyakinkan Kaumnya. Ia masuk dalam 170 Urutan Sahabiyah dan Sahabat Nabi Muhammad SAW
Abbas bin Ubadah bin Nadhlah - Deklarator Berdirinya Negara Islam Di Madinah

Abbas bin Ubadah bin Nadhlah berasal dari Bani Sulaim bin Auf. Suku Khazraj dan termasuk salah satu dari duabelas orang yang berba’iat kepada Rasulullah di Aqabah yang pertama.

Abbas bin Ubadah bin Nadhlah telah ikut pula menyertai Ba’iatul Aqabah yang kedua. Dimana ini merupakan pondasi awal berdirinya negara muslim di Madinah.

Pada Ba’iatul Aqabah kedua itu, setelah Abul Haitsam berpidato kepada kaumnya, suku Aus, untuk menerima dan membela Nabi SAW.

Abbas bin Ubadah juga menyampaikan orasi kepada kaumnya, Suku Khazraj dengan ajakan yang sama.

Baiat Aqobah 1

Pada musim haji tahun ke-11 kenabian ada enam warga Yatsrib yang masuk Islam, satu di antaranya Abbas bin Ubadah. Keenam orang ini berjanji akan meneruskan dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di tengah kaum mereka.

Sebagai kelanjutannya, pada musim haji berikutnya pada tahun ke-12 kenabian atau bulan Juli 621 M, dua belas orang lelaki Madinah datang ke Mekah. Lima orang di antaranya sudah lebih dahulu bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tahun sebelumnya. Hanya orang keenam yang tidak datang, yaitu Jabir bin Abdullah bin Ri’ab.

Siksaan dari Kaum Kafir Quraisy

Setelah selesainya perjanjian Aqabah yang dilakukan secara rahasia, dan orang-orang Anshar telah bersiap-siap hendak kembali pulang, orang-orang Quraisy mengetahui janji setia orang-orang Anshar ini serta persetujuan mereka dengan Rasulullah SAW, di mana mereka akan berdiri di belakangnya dan menyokongnya menghadapi kekuatan­kekuatan musyrik dan kesesatan.

Timbullah kepanikan di kalangan Quraisy, dan mereka segera mengejar kafilah Anshar. Kebetulan mereka berhasil menangkap Sa’ad bin Ubadah. Kedua tangannya mereka ikatkan ke atas pundaknya dengan tali kendaraannya, lalu mereka bawa ke Makkah. Di Makkah, iring-iringan ini disambut beramai-ramai oleh penduduk yang memukul dan melakukan siksaan pada Sa’ad sesuka hati mereka.

Bayangkan, Sa’ad bin Ubadah, sang pemimpin Madinah, mendapat perlakuan seperti ini. Ia yang selama ini melindungi orang yang minta perlindungan, menjamin keamanan perdagangan mereka, memuliakan utusan dari pihak mana pun yang berkunjung ke Madinah, telah diikat, dipukuli, dan disiksa. Dan orang-orang yang memukulnya seolah tidak kenal padanya dan tidak mengetahui kedudukannya di kalangan kaumnya!

Sa’ad segera meninggalkan Makkah setelah menerima penganiayaan. Dan permusuhan Quraisy ini telah mempertebal semangatnya hingga diputuskannya secara bulat akan membela Rasulullah saw, para sahabat dan Agama Islam secara mati-matian.

Kedermawanan

Rasulullah saw melakukan hijrah ke Madinah, dan sebelumnya itu para sahabatnya telah lebih dulu hijrah. Ketika itu demi melayani kepentingan orang-orang Muhajirin, Sa’ad membaktikan harta kekayaannya. Sa’ad adalah seorang dermawan, baik dari tabiat pembawaan, maupun dari turunan.

Ia adalah putra Ubadah bin Dulaim bin Haritsah yang kedermawanannya di zaman jahiliyah lebih tenar dari ketenaran manapun juga. Dan memang, kepemurahan Sa’ad di zaman Islam merupakan salah satu bukti dari bukti-bukti keimanannya yang kuat lagi tangguh. Dan mengenai sifatnya ini ahli-ahli riwayat pernah berkata, “Sa’ad selalu menyiapkan perbekalan bagi Rasulullah saw dan bagi seluruh isi rumahnya.”