Postingan kedua saya malah bahasa judol, kenapa judol ?
Halo teman,
Padahal saya biasanya banyak bahas soal desain, digital, dan dunia kreatif. Tapi jujur, ada satu hal yang akhir-akhir ini sering banget muter di kepala saya:
Judol (judi online) yang makin hari makin “dinormalisasi” di sekitar kita.
Bukan cuma muncul di berita, tapi juga:
- Nyelip di grup WhatsApp
- Muncul di iklan-iklan aneh di sosmed terutama facebook
- Masuk obrolan tongkrongan: “temen gue semalam WD sekian juta nih…”
Dan sebagai orang yang hidup di dunia digital, saya makin kepikiran:
internet yang harusnya jadi ruang belajar & berkarya, pelan-pelan disedot buat hal yang sangat destruktif.
Postingan ini bukan buat menghakimi siapa pun. Ini lebih ke curhatan dan keresahan saya sebagai orang yang paham digital.
Daftar isi
Judol Sekarang Rasanya Deket Banget
Kalau dulu judi identiknya tempat tertentu, suasana tertentu, orang tertentu.
Sekarang?
- Tinggal klik link
- Daftar 2 menit
- Depo bisa dari mana aja
- Main di HP sambil tiduran
Buat generasi yang hidupnya selalu online, entry barrier-nya kecil banget:
- Lagi overthinking → buka HP → lihat iklan “spin gratis”
- Lagi bokek → muncul narasi “modal receh bisa jadi jutaan”
- Lagi stres → muncul iming-iming “jalan pintas finansial”
Dan yang bikin tambah ngeri:
judol dibungkus dengan estetika digital yang makin lama makin “niat” — desain UI kekinian, warna-warna catchy, copywriting yang persuasif banget.
Sebagai orang yang paham desain, saya bisa lihat jelas perkembangannya :
Ini bukan desain asal-asalan, ini desain yang sengaja di-engineer buat bikin orang terus main.
Pola yang Saya Lihat: Dari Coba-Coba Jadi Kecanduan
Beberapa pattern yang sering saya dengar/lihat:
- Awalnya cuma: “Iseng ah, 50 ribu doang.”
- Menang sekali → rasa percaya diri naik → “kayaknya gue bisa nih baca polanya.”
- Begitu kalah → “sayang, tinggal sedikit lagi pasti balik modal.”
- Ujung-ujungnya: top up lagi, lagi, dan lagi.
Di titik tertentu, yang dikejar bukan lagi “untung”, tapi balik modal.
Dan di situ lah jebakannya.
Bahkan lebih ngeri lagi kalau sudah masuk ke:
- Pinjem uang (teman, keluarga, atau bahkan pinjol)
- Bohong soal pengeluaran
- Ngelarin barang karena kepepet
Semua ini terjadi…
bukan karena orangnya bodoh, tapi karena sistemnya memang di-design buat bikin orang stay dan repeat terus menerus.
Dark Side dari Kacamata Desainer Digital
Sebagai orang yang dekat dengan desain dan dunia digital, saya makin nggak nyaman lihat:
- Gamification berlebihan:
- Animasi “menang” berlebihan
- Efek suara tiap spin
- Bar progress palsu
- Copywriting manipulatif:
- “Hampir menang!”
- “Kurang dikit lagi jackpot!”
- “User lain baru saja WD 7 juta!”
- FOMO yang di-inject:
- Countdown palsu
- “Promo tinggal 5 menit lagi”
- “Slot hampir penuh”
Kalau di UI/UX kita biasanya bicara soal good design for good product, di judol ini yang dipakai sering kali adalah:
good design for bad behavior
Secara teknis, saya bisa apresiasi skill desainnya.
Tapi secara moral & dampak sosial, di sanalah keresahan saya mulai numpuk.
Dampak yang Jarang Dibahas: Mental, Relasi, dan Produktivitas
Yang sering kebayang soal judol biasanya cuma: “uang habis”.
Padahal efeknya jauh lebih kompleks:
- Mental
- Rasa bersalah, tapi nggak berhenti
- Overthinking tiap malam
- Mood swing karena kalah/menang
- Relasi
- Bohong ke pasangan/keluarga soal uang
- Konflik karena pengeluaran nggak jelas
- Kepercayaan pelan-pelan hilang
- Produktivitas
- Kerja nggak fokus, pikiran ke saldo
- Waktu habis buat “ngejar balik modal”
- Energi kreatif terkuras buat hal yang nggak membangun
Sebagai orang yang percaya bahwa internet bisa jadi tempat untuk berkarya, belajar, dan cari rezeki halal, lihat energi digital bangsa ini lari ke judol itu bikin saya sedih banget.
Keresahan Pribadi: Internet Harusnya Bisa Dipakai buat Hal Lebih Berarti
Saya sering mikir gini :
“Kalau orang-orang yang jago nyari link judol, jago baca pola, jago ngatur emosi waktu main…
energi segede itu dipakai buat bisnis, skill, atau karya digital, mungkin hidup mereka jauh lebih baik.”
Sebagai orang yang hidup dari dunia digital (desain, web, dan ekosistemnya), saya melihat:
- Banyak banget peluang real di dunia online:
- jualan produk
- jasa desain
- ngajar skill
- bikin konten bermanfaat
- Tapi di sisi lain, judol bikin orang ke-drag ke kubangan yang:
- keliatannya cepat
- tapi sering ujung-ujungnya masuk kedalam jurang.
Itu yang bikin saya merasa perlu nulis ini di ryanpratama.com:
Biar ada jejak keresahan, bukan cuma jejak portofolio.
Saya Nggak Suci, Tapi Saya Resah
Saya nggak mau memposisikan diri sebagai orang yang suci dan selalu benar.
Yang saya tahu:
- Godaan “duit instan” itu real banget
- Tekanan hidup juga real apa lagi di Indonesia
- Rasa pengen “shortcut” juga manusiawi
Tapi di titik ini, saya cuma mau bilang ke teman:
- Kalau kamu belum pernah nyentuh judol → jangan mulai. atau coba-coba
- Kalau kamu lagi di fase “iseng-iseng aja” → hati-hati, fase ini yang paling licin bisa bikin kamu terperosok.
- Kalau kamu sudah merasa kebablasan → kamu nggak sendirian, dan minta bantuan itu bukan hal yang memalukan.
Harapan Saya ke Depan
Harapan saya sederhana:
- Internet di Indonesia lebih banyak dipakai untuk:
- Belajar skill
- Bangun bisnis
- Bikin karya yang bisa dibanggakan
- Bukan habis di spin, top up, dan kejar “hampir menang”.
Dan lewat tulisan ini, kalau pun nggak bisa mengubah banyak hal, setidaknya:
Ada satu halaman di internet yang bilang kebenaran.
“Judol itu bukan hiburan biasa — ini masalah serius.”
Kalau teman punya cerita, pandangan, atau keresahan yang sama, mungkin suatu saat kita bisa bahas lebih dalam lagi di konten lanjutan di ryanpratama.com.
Untuk sekarang, saya cuma mau bilang:
jaga diri, jaga circle, dan jaga arah energi digital kamu — karena sayang banget kalau talent dan waktu kamu habis di tempat yang salah.