Blog

Review Film Dilan 1990 : Romantisme Ala 90’an

Review Film Dilan 1990 : Romantisme Ala 90’an

Jangan rindu. Berat. Biar aku saja.” penggalan dialog Dilan dan Milea di film Dilan 1990 mendadak booming. Tidak hanya membuat banyak orang baper berjamaah, meme kutipan dialog tersebut juga banyak bermunculan dalam berbagai versi. Saya termasuk salah seorang yang pesimis sosok Dilan bisa divisualisasikan. Karena seperti film yang diadaptasi dari buku, entah kenapa ceritanya selalu berbeda dari filmnya. Kebanyakan bahkan gagal memuaskan penonton, yang sudah memegang interpretasinya masing-masing saat membaca novel.  Ditambah terpilihnya Iqbal Diafakhri untuk memerankannya. Iqbal yang mantan vokalis boyband CJR itu masak jadi Dilan sang ‘Panglima Tempur’? Nggak salah? begitu pikir saya saat itu.


Namun begitu menyaksikan filmnya, semua pesimistis saya itu lenyap. Akting Iqbal sebagai Dilan sangat patut diapresiasi. Iqbal mampu ‘menghidupkan’ karakter Dilan yang  ikonik seperti gaya badboy anak gang motor, romantismenya yang unik tapi tidak alay. Bahkan pesona Dilan lewat tatapan mata dan wajah imut khas anak SMA dan ampuh bikin senyum-senyum tersipu sepanjang film diputar sukses dihadirkan Iqbal.  Iqbaal memang tidak cukup badboy, tapi adegan bela dirinya cukup menyakinkan.

Tidak salah bila sang penulis sangat membela Iqbal dari protes banyak pembaca setia Dilan. Dalam akun twitternya @pidibaiq, ayah panggilannya mengatakan, Dilan bukan Iqbal. Iqbal hanya menjalankan apa yang tertulis di script dan yang diarahkan sutradara. Meski tetap saja, belum sama dengan Dilan versi ekspetasi saya. Hehe.

Secara alur film yang diadaptasi dari novel trilogi (Dia adalah Dilanku Tahun 1990, Dia adalah Dilanku Tahun 1991 dan Milea: Suara dari Dilan) karya Pidi Baiq ini sangat bisa dinikmati. Tidak melompat-lompat dan masuk akal. Bahkan saya yang mengikuti perjalanan Dilan sejak novel pertama hingga ketiga, tidak ragu mengatakan film ini sangat sukses. Kalau bisa disimpulkan menonton Dilan 1990 nyaris sama sensasinya seperti ketika membaca novel  Dia adalah Dilanku Tahun 1990. Tapi saya terlalu subyektif bila mengatakan Dilan 1990 tidak ada minusnya. Tetap ada minusnya namun  dalam taraf wajar dan masih bisa dimaafkan.

Menonton film ini juga membuat ingatan Anda sebagai penggemar Dilan diuji. Bahkan baru muncul sedikit adegan saja Anda pasti sudah menggumam pelan atau membatin, “Ini pasti adegan kasih hadiah TTS,” Atau “Ah ini adegan di telepon umum yang membahas tentang rindu yang berat,

Setting  Dilan 1990 yang berlatarkan kota Bandung di tahun 1990 juga berhasil dihadirkan dalam fil ini.  Apalagi kendaraan yang dipakai Bunda Dilan dan Kang Adi pun juga sangat menyesuaikan dengan zamannya. Meski bergenre drama remaja romantis namun dalam film berdurasi 110 ini Anda tidak akan disuguhi romantisme picisan khas drama korea, melainkan romantisme unik  dan cerdas.

Tidak heran sejak tayang 25 Januari 2017, studio bioskop yang menayangkan Dilan 1990 tidak pernah sepi. Selalu full. Mayoritas penontonnya adalah kaum hawa, yang barangkali tengah bermimpi menjadi Milea. Dan ingin diperjuangkan sebegitu manisnya oleh Dilan.  Iyalah, mana ada badboy ganteng  tapi setia, romantis, humoris, selalu berusaha melindungi dan membuat pasangannya tersenyum.  Jadi incaran guru BP tapi ikut seleksi cerdas cermat, jago bikin puisi, hobi baca buku, koleksi bukunya menggunung di kamar dan punya bunda yang gaul juga keluarga yang menyenangkan.

Namun menurut saya yang paling menarik adalah Dilan 1990 sukses  menghadirkan suasana khas 90’an. Misalnya seperti trend memasang poster di kamar, gaya dan model seragam longgar dimasukkan dengan ikat pinggang terlihat, hobi membaca novel Olga, serta yang paling juara adalah indahnya dunia tanpa gadget, kuota, colokan, powerbank, sinyal 4G. Sehingga komunikasi dengan kekasih lebih banyak dengan telepon umum dan telepon rumah.  Rasa rindu itu jadi lebih bermakna dan terasa.

Buat Anda yang belum menyaksikan Dilan 1990 buruan deh ke bioskop. Kalau Anda bukan golongan orang romantis bahkan alergi gombalan manis, jangan ragu, setelah menonton Dilan 1990 pasti ada sedikit keinginan dalam hati: “Andaikan aku yang jadi Milea.

 

 

Bagi yang ma liburan seru murah sama teman-teman atau keluarga dengan suasana pantai yuk baca postingan berikut Gili Labak Keindahan bawah laut yang tidak bisa di ragukan

Gili Labak Keindahan bawah laut Madura

Write a comment

RYANPRATAMADOTCOM

hosting terbaik

Categories

Newsletter